Senin, 18 Mei 2015

Cerpen-Hujan Yang Mengingatkanku



Hujan Yang Mengingatkanku

            Ku hembuskan nafas pelampiasanku dalam sisa penat hidup ini. Ku biarkan pandanganku menyorot menerawangi secangkir coklat panas yang ku pesan dari tadi dan kini tlah dingin dihadapanku. Tak terasa sudah tiga jam aku duduk termenung disudut ruang dekat jendela ``. Aku tersadar dari lamunanku ketika seorang pelayan cafe wanita datang menghampiriku dan mengatakan bahwa cafe akan ditutup. Aku hanya tersenyum kecut mendengar perkataan pelayan tersebut dan merasa sedikit malu karena hanya tinggal aku yang masih duduk manis dalam cafe itu. Ku lihat pelayan wanita tersebut tersenyum ramah padaku seperti mengerti apa yang kurasa.
            Aku mulai beranjak dari kursi dan perlahan berjalan keluar cafe setelah membayar secangkir coklat panasku tadi. Rintikan hujan mulai turun ketika tepat aku keluar dari cafe. Mungkin hujan enggan  membiarkaku pulang begitu saja. Angin kencang berhembus, seakan mencoba menghilangkan kepiluan dari hatiku. Ku dengar hembusan angin berdesing, tapi aku tak peduli. Kencangnya angin mungkin gara-gara semakin malam saja, begitu pikirku. Aku terhenti sebentar, dan mulai meyakinkan pada diriku, bahwa aku saat ini tidak sedang bermimpi. Kupejamkan kedua mata ini dan ku hirup aroma khas tanah yang mulai masuk melalui rongga hidungku kemudian berjalan dari laring, trakea, bronkus, bronkheolus, hingga ke alveolus yang kemudian akan dilanjutkan oleh darah dalam tubuh selanjutnya akan terjadi pertukaran antara oksigen dan karbondioksida.
            Dinginnya hembusan angin dan percikan hujan kini mulai menerpa wajahku. Hujan mulai deras. Orang-orang yang berjalan kaki mulai membuka payung yang dibawanya, dan sebagian mulai berlari kecil menuju emperan toko-toko yang mulai tutup. Aku yakin mereka bukan seperti aku yang hanya duduk manis dikafe, dan membuang waktunya berjam-jam dengan sia-sia begitu saja. Tapi mereka menghabiskan waktunya untuk bekerja bahkan lembur hingga pulang selarut malam ini.
            Tiba-tiba terbesit ingatanku akan kejadian beberapa bulan yang lalu. Ketika semuanya terjadi begitu saja dan ketika diri ini harus meyakinkan pada diriku sendiri bahwa ini semua telah menjadi keputusan-Nya. Hujan deras yang beberapa bulan lalu juga mengguyur kota ini, dan diperempatan itulah, yang menyisakan duka mendalam. Kecelakaan yang terjadi secara tiba-tiba merenggut nyawa ayahku yang kini menyebabkan kami kehilangan sosok seorang ayah. Sosok seorang ayah yang harus terlihat kuat ketika sebenarnya dia tlah lelah, yang harus terlihat bangga meski ia kecewa dan yang harus tersenyum meski perih yang dirasa.
            Tanpa kusadari sebuah taxi berhenti tepat didepanku dan kemudian menurunkan kacanya. Tampak seorang laki-laki paruh baya mengisyaratkanku untuk menawari taxinya. Aku pun berlari kecil menuju kedalam taxi. Taxi pun kini melaju dengan kecepatan sedang setelah aku memberi tahukan alamat lengkap rumahku.
            Setibanya dirumah, ketika aku membuka pintu yang mungkin sengaja belum dikunci, aku diam terpaku diambang pintu melihat lagi-lagi bukan kebiasaan bunda larut malam begini duduk didepan TV tanpa menyalakannya. Aku tahu, mungkin bunda masih belum bisa menerima kepergian ayah. Ku langkahkan kakiku pelan, berjalan mendekati bunda yang duduk membelakangi pintu masuk. Kakiku terhenti beberapa langkah sebelum ku dekati bunda, ketika melihat bunda menunduk seraya mengusap lembut foto kebersamaan kami dulu yang ada dipangkuannya.
            Kuhirup nafas dalam-dalam, berharap dapat tenangkanku lebih dari hujan gerimis ini. Ku dekati bunda yang kini memeluk erat bingkai foto tersebut. Ku usap lembut bahu bunda dengan kedua tanganku dari belakang dan berharap dapat sedikit mengurangi rasa sedihnya. Bunda mengangkat kepalanya, kemudian aku mendekatkan wajahku pada wajahnya. Tanpa kusadari  bunda meneteskan air mata ketika matanya mulai terpejam.
            Udah malam bun, bunda harus istirahat...” ujarku lembut ditelinga kirinya.
Bunda hanya membelai rambutku dan tersenyum penuh kepedihan.
            Kamu duluan aja, bunda bentar lagi juga mau istirahat kok” jawabnya seraya menatapku.
            Ya sudah, Rara duluan ya bun...” ujarku seraya mencium pipi kirinya.
Bunda hanya tersenyum hambar. Aku tak mau memaksanya lagi,  seperti hari kemarin-kemarin untuk menyuruhnya istirahat. Karena bunda adalah tipe orang yang tegas, sekali mengatakan nanti ya nanti.
            Aku duduk sambil termenung disudut kursi yang tak asing bagiku. Kamar ini seolah menjadi saksi bisu kesedihan ini. Sudah hampir sebulan lebih kami belum bisa merelakan kepergian sosok seorang ayah. Aku tahu, kami tak boleh terus berlarut-larut dalam kesedihan. Aku akan berusaha menjadi sosok yang tegar setidaknya untuk bundaku. Dan mencoba bangkit dari keterpurukan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar