Hujan Yang Mengingatkanku
Ku hembuskan nafas
pelampiasanku dalam sisa penat hidup ini. Ku biarkan pandanganku menyorot
menerawangi secangkir coklat panas yang ku pesan dari tadi dan kini tlah dingin
dihadapanku. Tak terasa sudah tiga jam aku duduk termenung disudut ruang dekat
jendela ``.
Aku tersadar dari lamunanku ketika seorang pelayan cafe wanita datang menghampiriku
dan mengatakan bahwa cafe akan ditutup. Aku hanya tersenyum kecut mendengar
perkataan pelayan tersebut dan merasa sedikit malu karena hanya tinggal aku
yang masih duduk manis dalam cafe itu. Ku lihat pelayan wanita tersebut
tersenyum ramah padaku seperti mengerti apa yang kurasa.
Aku mulai beranjak dari kursi dan
perlahan berjalan keluar cafe setelah membayar secangkir coklat panasku tadi.
Rintikan hujan mulai turun ketika tepat aku keluar dari cafe. Mungkin hujan
enggan membiarkaku pulang begitu saja.
Angin kencang berhembus, seakan mencoba menghilangkan kepiluan dari hatiku. Ku
dengar hembusan angin berdesing, tapi aku tak peduli. Kencangnya angin mungkin
gara-gara semakin malam saja, begitu pikirku. Aku terhenti sebentar, dan mulai
meyakinkan pada diriku, bahwa aku saat ini tidak sedang bermimpi. Kupejamkan
kedua mata ini dan ku hirup aroma khas tanah yang mulai masuk melalui rongga
hidungku kemudian berjalan dari laring, trakea, bronkus, bronkheolus, hingga ke
alveolus yang kemudian akan dilanjutkan oleh darah dalam tubuh selanjutnya akan
terjadi pertukaran antara oksigen dan karbondioksida.
Dinginnya hembusan angin dan
percikan hujan kini mulai menerpa wajahku. Hujan mulai deras. Orang-orang yang
berjalan kaki mulai membuka payung yang dibawanya, dan sebagian mulai berlari
kecil menuju emperan toko-toko yang mulai tutup. Aku yakin mereka bukan seperti
aku yang hanya duduk manis dikafe, dan membuang waktunya berjam-jam dengan
sia-sia begitu saja. Tapi mereka menghabiskan waktunya untuk bekerja bahkan
lembur hingga pulang selarut malam ini.
Tiba-tiba terbesit ingatanku akan
kejadian beberapa bulan yang lalu. Ketika semuanya terjadi begitu saja dan
ketika diri ini harus meyakinkan pada diriku sendiri bahwa ini semua telah
menjadi keputusan-Nya. Hujan deras yang beberapa bulan lalu juga mengguyur kota
ini, dan diperempatan itulah, yang menyisakan duka mendalam. Kecelakaan yang
terjadi secara tiba-tiba merenggut nyawa ayahku yang kini menyebabkan kami
kehilangan sosok seorang ayah. Sosok seorang ayah yang harus terlihat kuat
ketika sebenarnya dia tlah lelah, yang harus terlihat bangga meski ia kecewa
dan yang harus tersenyum meski perih yang dirasa.
Tanpa kusadari sebuah taxi berhenti
tepat didepanku dan kemudian menurunkan kacanya. Tampak seorang laki-laki paruh
baya mengisyaratkanku untuk menawari taxinya. Aku pun berlari kecil menuju
kedalam taxi. Taxi pun kini melaju dengan kecepatan sedang setelah aku memberi
tahukan alamat lengkap rumahku.
Setibanya dirumah, ketika aku
membuka pintu yang mungkin sengaja belum dikunci, aku diam terpaku diambang
pintu melihat lagi-lagi bukan kebiasaan bunda larut malam begini duduk didepan
TV tanpa menyalakannya. Aku tahu, mungkin bunda masih belum bisa menerima
kepergian ayah. Ku langkahkan kakiku pelan, berjalan mendekati bunda yang duduk
membelakangi pintu masuk. Kakiku terhenti beberapa langkah sebelum ku dekati
bunda, ketika melihat bunda menunduk seraya mengusap lembut foto kebersamaan
kami dulu yang ada dipangkuannya.
Kuhirup nafas dalam-dalam, berharap
dapat tenangkanku lebih dari hujan gerimis ini. Ku dekati bunda yang kini
memeluk erat bingkai foto tersebut. Ku usap lembut bahu bunda dengan kedua
tanganku dari belakang dan berharap dapat sedikit mengurangi rasa sedihnya.
Bunda mengangkat kepalanya, kemudian aku mendekatkan wajahku pada wajahnya.
Tanpa kusadari bunda meneteskan air mata
ketika matanya mulai terpejam.
“Udah malam bun, bunda harus
istirahat...” ujarku lembut ditelinga kirinya.
Bunda
hanya membelai rambutku dan tersenyum penuh kepedihan.
“Kamu duluan aja, bunda bentar lagi
juga mau istirahat kok” jawabnya seraya menatapku.
“Ya sudah, Rara duluan ya bun...”
ujarku seraya mencium pipi kirinya.
Bunda
hanya tersenyum hambar. Aku tak mau memaksanya lagi, seperti hari kemarin-kemarin untuk
menyuruhnya istirahat. Karena bunda adalah tipe orang yang tegas, sekali
mengatakan nanti ya nanti.
Aku duduk sambil termenung disudut
kursi yang tak asing bagiku. Kamar ini seolah menjadi saksi bisu kesedihan ini.
Sudah hampir sebulan lebih kami belum bisa merelakan kepergian sosok seorang
ayah. Aku tahu, kami tak boleh terus berlarut-larut dalam kesedihan. Aku akan
berusaha menjadi sosok yang tegar setidaknya untuk bundaku. Dan mencoba bangkit
dari keterpurukan ini.